Pages

Friday, 8 July 2022

Tuhan vs Manusia (?)

"Mama, bikinin Bebelac..." Begitulah tadi malam anakku yang berumur tiga tahun merengek kepadaku jam 10 malam. Sudah ngantuk, capek dan malas bergerak dari tempat tidur. 

"Mama, bikinin Bebelac..." Lagi anakku merengek. Malas dan malas saja yang ada di badanku.

"Besok aja ya, Kak. Kakak juga gak ngabisin susu yang mama buat tiap kali bikin." Aku coba bernegosiasi dengan dia dan mementingkan rasa enggan bangun yang kurasakan.

Anakku pun menangis dan merengek lagi. Mau tidak mau aku bangkit dan membuatkan susu untuk dia.

"Tapi di gelas ya? Harus habisin ya?"

"Iya, Mama..."

Jadi, kubuatkanlah susu untuknya. Terima kasih, Tuhan, aku akhirnya mengalahkan kemalasanku lewat rengekan anakku.

"Makasih, Mama..."

"Sama-sama..."

Dia pun menghabiskan susu yang kubuat. Pintarnya, boru hasianku.

Seketika itu aku berpikir, komitmenku sebagai seorang ibu yang "katanya" mau memberikan yang terbaik untuk anaknya, ternyata hanya sebatas rasa malas dan enggan saja. Ternyata aku hanya akan memberikan yang terbaik ketika keadaanku baik. Lalu, ketika aku malas? Ya, sudah, selamat jalan dengan komitmen itu.

Yang membuat aku bangkit akhirnya untuk membuatkan susu sebenarnya adalah rengekan anakku. Aku malas mendengar tangisan dan rengekannya malam-malam. Bukan karena komitmenku itu.

Lalu, pertanyaannya, apakah Tuhan sama seperti manusia? Apakah Tuhan pernah enggan dan melalaikan janji-Nya?

"Tetapi aku, aku hendak berbicara dengan Yang Mahakuasa, aku ingin membela perkaraku di hadapan Allah." - Ayub 13:3

Demikian Ayub berkata. Di tengah segala ujian yang dihadapi, dan seolah-olah Tuhan tutup telinga dengan semua yang dihadapi Ayub, kira-kira jika Ayub tidak bersikeras untuk memperjuangkan perkaranya, akankah Tuhan lalai seperti aku yang malas membuatkan susu anakku? Apakah Tuhan hanya akan ter-trigger ketika kita berteriak-teriak kepada-Nya?

Tuesday, 28 June 2022

Laporan Keuangan SKPD Audited 2022

Tahap akhir dari siklus akuntansi adalah laporan keuangan. 




❶ Surat Pengantar Kepala SKPD Kepada Wali Kota Bandung melalui PPKD mengenai penyampaian Laporan Keuangan Tahun 2022

❷ Laporan Keuangan Tahun 2021 beserta lampiran sebagai berikut:

        🧷 Surat Pernyataan Tanggung Jawab Penyusunan LK SKPD ditandatangani Kepala SKPD

        🧷 Laporan Realisasi Anggaran (LRA)

        🧷 Laporan Operasional (LO) format 2

        🧷 Neraca

        🧷 Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)

        🧷 Rekening Koran per 31 Desember 2022

        🧷 Berita Acara Pemeriksaan Kas per 31 Desember 2022

        🧷 Daftar Saldo Piutang per 31 Desember 2022

        🧷 Berita Acara Stock Opname Persediaan per 31 Desember 2022

        🧷 Berita Acara Stock Opname Persediaan per 31 Desember 2021

        🧷 Daftar Pendapatan Diterima Dimuka per 31 Desember 2022

        🧷 Daftar Belanja Dibayar Dimuka per 31 Desember 2022

        🧷 Bukti Pembayaran Utang Beban dan Utang Jangka Pendek 2021

        🧷 Bukti Pengakuan Utang Beban tahun 2022

        🧷 Berita Acara Rekonsiliasi Utang Belanja 2022 beserta daftar nominatifnya

        🧷 Berita Acara Rekonsiliasi Barang Milik Daerah tahun 2022

        🧷 Memo Jurnal Penyesuaian


Keterangan: 🧷 bisa ada, bisa juga tidak

Tuesday, 21 June 2022

Perjalanan CPNS 2021 Pemkot Bandung

💭1 Juli 2021

🧷Pengumuman Penerimaan CASN di Lingkungan Pemerintah Kota Bandung

💦2 Agustus 2021

🧷Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi

💓16 Agustus 2021

🧷 Pengumuman Hasil Sanggah Seleksi Administrasi

💨31 Agustus 2021

🧷 Jadwal SKD Tilok Gedung Youth Center SPORT Jabar Arcamanik Pemkot Bandung

😇27 September 2021

🧷 Hasil SKD Tilok Youth Center SPORT Jabar Arcamanik 27 September 2021 Sesi 29

😓24 November 2021

🧷 JADWAL SELEKSI KOMPETENSI BIDANG (SKB) CPNS PEMKOT BANDUNG FORMASI TAHUN 2021

😆16 Desember 2021

🧷Skor Hasil SKB Tilok Gedung Youth Center SPORT Jabar Arcamanik Pemkot Bandung

😇31 Desember 2021

🧷Hasil Integrasi SKD+SKB CPNS Pemkot Bandung 2021

💋07 Januari 2022

🧷 Hasil Sanggah CPNS 2021

🧷 Pengumuman Pemberkasan CPNS 2021

👌26 Januari 2022

🧷 Pengumuman Pembatalan Kelulusan CPNS 2021

💤07 Februari 2022

🧷 Pengganti CPNS 2021

😍08 April 2022

🧷 Undangan Pembagian SK CPNS 2021 Pemkot Bandung



Sunday, 27 December 2020

Nama Anakku Panjang, Kamu (Juga)?

Lucu, kalau dulu ingat reaksiku setiap melihat anak yang diberi nama “panjang lebar”. Sambil bercanda suka keceplosan bilang, “Aduh, Namanya singkat banget, apa ga ada nama yang lebih singkat lagi?” Begitulah kira-kira ucapanku dulu. Tapi sekarang semua kata-kataku seperti berbalik menyerangku. Hahaha, anakku kuberi nama yang juga cukup “singkat”: Mylesshinta Eunike Kagumi Saragi. Cukup “singkat” bukan?

Tepat tanggal 08 Mei 2019 anakku pun lahir. Anakku berjenis kelamin perempuan, dilahirkan dengan proses normal dengan berat 4.5 kg dan panjang 53 cm. Cukup menyulitkan bagiku saat-saat itu. Mujizat dan kebaikan Tuhan untukku dengan kondisi tubuh yang sudah mulai lemah karena terlalu lama mengejan, aku akhirnya bisa melihat sosok mungil yang sudah lama aku rindukan. Mylesshinta Eunike Kagumi Saragi. Nama yang penuh arti, harapan dan doa. 

Myles, memiliki arti “seorang prajurit”. Aku pribadi dan suamiku sebenarnya mempunyai maksud dan kisah yang unik dengan nama “Myles”. Anakku adalah anak yang sangat kuat. Hari-hari di kandungan, dia selalu menemaniku bekerja. Berangkat dengan kendaraan roda dua diantar suami, dan pulang dengan angkutan umum. Perjalanan yang jauh, bermil-mil, mile(s), Myles, cocok kan? Hehehe. Dan lagi, Myles sendiri adalah nama seorang musisi Amerika yang aku kagumi. Seorang vokalis bersuara emas dan pintar memainkan alat musik. Ya, dialah Myles Kennedy, vokalis grup band Alter Bridge. Wah, 1 nama saja sudah kemana-mana ya artinya. Jadi singkatnya Myles bagiku berarti “prajurit tangguh yang melewati bermil-mil jalan kehidupan, berharap menjadi seorang musisi yang seperti Myles Kennedy”. Aduduh... Kok banyak sekali ya, Bund? Hahaha...

Shinta, memiliki arti “berbahagia”. Ini adalah nama pemberian dari opung boru anakku. Opung boru, artinya nenek (dalam Bahasa Batak). Shinta adalah nama kecil dari opung boru anakku. Harapanku tentu anakku menjadi anak yang berbahagia, tentunya kebahagiaan yang benar, yang dikenan Tuhan, bukan kebahagiaan di atas penderitaan orang lain. Ashiaaappp...

Eunike, adalah sebuah nama yang berasal dari Alkitab. Eunike adalah seorang ibu dari anak yang bernama Timotius. Eunike berhasil mendidik anaknya, Timotius, menjadi anak yang takut akan Tuhan dan menjadi pelayan Tuhan yang setia. Nama Eunike diberikan oleh opung doli (kakek – dalam Bahasa Batak) anakku. Beliau saat itu membaca kitab Timotius dan menemukan nama itu, jadilah anakku diberi nama Eunike.

Kagumi. Ini adalah nama yang aku pribadi berikan untuk anakku. Dari kata kagum, mengingatkanku betapa aku sungguh kagum atas karya Tuhan bagi aku dan keluargaku. Penantian panjang untuk memiliki momongan, perjalanan yang penuh lika-liku saat proses kehamilannya, terlebih saat kelahirannya, membuat aku begitu kagum akan karya Tuhan atas diri dan keluargaku. Bukan perkara yang mudah bagiku tinggal di perantauan, jauh dari orang tua dan sanak saudara. Saat aku melahirkan aku hanya didampingi suamiku, orang tuaku tidak bisa menemani karena jarak yang sangat jauh. Tapi semua itu membuat aku menjadi lebih mengerti akan arti bersyukur. Bersyukur karena kekuatan yang tak terpikirkan sebelumya, bersyukur untuk setiap keadaan, bersyukur untuk keajaiban, semua membuatku kagum 😊

Saragi adalah nama keluarga, lebih tepatnya marga dari suamiku. Adat Batak menganut sistem patriarki yang membuat anak yang dilahirkan mendapat marga dari pihak ayah.

Cerita tidak sampai di situ. Hal-hal lucu menyertai nama anakku yang notabene panjang dan agak sulit diucapkan. Dari keluarga suamiku, Myles malah dipanggil Meyli, hahaha. Pengen cepet dan gak belibet, jadi deh nama panggilannya berubah. Next¸di keluargaku, Keke (dari kata Eunike). Wah, nama panggilan dari kedua keluarga beda semua tuh. Hahaha. Lalu, di rumah pengasuh anakku, anakku dipanggil Mels (dari kata Myles) dan juga Gumi (dari kata Kagumi). Jadi gemesss...

Dan di kantorku, lebih lucu lagi. Waktu itu diadakan arisan kecil-kecilan. Aku ikut dengan menggunakan nama anakku Myles (biar hoki ceunah). Tibalah saat nama diundi, namaku pun keluar. Kebetulan yang membaca nama yang keluar adalah bosku yang sudah cukup berumur. Kertas arisan dibuka, dengan santainya beliau bilang, “Milebes”. Sontak seisi kantor bertanya-tanya siapa itu Milebes? Dan akhirnya semua tertawa, kerena ternyata itu nama anakku Myles yang asal-asalan dibaca. Kayaknya si bapak malas mengeja dengan baik. Aduh, pak, pak... Hahaha. Jadilah sampai sekarang namaku menjadi “mama Milebes” karena kejadian itu. Ah, sudahlah... Hahaha. Aku sendiri memanggil anakku dengan sebutan “Kue”. Makin nggak nyambung, ya, Bund?

Akhirnya aku menyadari, ada banyak kisah di balik pemberian nama pada seorang anak. Aku bisa memaklumi bagaimana pun nama yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya. Aku nggak lagi anti atau men-judge orang tua yang menamai anak- anak mereka seperti itu. Tentu nama-nama itu dibuat dengan berbagai pertimbangan dan alasan. Ketika para orang tua (kakek-nenek) juga ikut menitipkan doa lewat nama yang mereka berikan untuk cucu mereka, tertu kita sebagai anak sudah selayaknya meghargainya.

Nah, untuk para orang tua yang saat ini sedang dalam penantian kehadiran buah hati, atau yang sedang mencari referesi nama anak, coba deh main ke situs https://id.theasianparent.com/ Di sana ada banyak refenresi nama-nama anak mulai dari A-Z, contohnya https://id.theasianparent.com/nama-bayi-elegan/ Bagi yang punya akun Instagram juga silakan follow akun Instagram @theasianparent_id. Ada bayak informasi parenting dan tips-tips lainnya di sana. Aku pribadi sangat senang dengan adanya akun ini, karena bisa jadi referensiku sebagai orang tua baru untuk mematau perkembangan anak. Ada info-info promo dan mereka juga kerap mengadakan lomba yang bisa parents ikuti. Hadiahnya lumayan, lho.

Seperti dikutip dalam Amsal 21:24 TB: Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas. Demikian berharganya sebuah nama. Dengan doa dan harapan yang terselip di balik setiap nama yang kita berikan pada anak-anak kita, tentu tak lepas dari usaha dan doa kita untuk mewujudkan makna dari setiap nama itu. Tugas kita kembali lagi mendidik dan mengarahkan mereka agar menjadi pribadi yang baik. Semoga kita para orang tua mampu megemban tugas mulia untuk medidik mereka menjadi manusia Tuhan seutuhnya. Amin. Tuhan memberkati 😊                                                                                                                                               




Thursday, 22 February 2018

Bahasa dan Bani Micin

Seperti biasa, sepulang mencari sesuap nasi, saya selalu menyempatkan diri untuk sejenak berbagi kisah bersama sahabat terbaik saya, tepatnya, suami saya, tentang apa yang sudah terjadi sepanjang hari saya tidak bersamanya. Percakapan-percakapan ringan terbaik ini sarat dengan nasihat dan canda. Alhamdulilah, Tuhan memberi saya kesempatan untuk memiliki seorang yang begitu luar biasa dalam hidup saya. Lha, kok, jadi pamer? Hahaha.... Lanjut!

Sebuah pertanyaan saya ajukan kepadanya, pertanyaan seorang sahabat yang dibagikan dalam grup WhatsApp.
Lebih kejam mana, melempar anjing ke sungai untuk makanan buaya atau memukul anjing sampai mati kemudian dimakan sendiri?
Pertanyaan yang lucu dan sedikit nyeleneh menurut saya, dan suami saya menjawab: "Yang memukul". WHAT?

Saya adalah seorang pemakan daging anjing, sayangnya, hahaha, Dan saya kurang setuju dengan jawaban suami saya. Perbedaan pendapat ini membuat kami tertawa.

OK. That's just an intro.

Lalu percakapan berlanjut tentang pengalaman saya di kantor, tentang segelintir oknum yang menurut saya "kurang" meneliti dan menelaah lebih jauh tentang sesuatu yang sederhana. Memperdebatkan tentang sebuah kalimat bahasa Arab, Alhamdulilah.

Lucu. Sangat lucu dan ironis, di zaman sekarang yang begitu maju masih ada orang yang memperdebatkan masalah itu. Referensi kredibel saya rasa terpampang nyata, dan masih ada yang terkecoh dengan unsur SARA. Sangat disayangkan :)

Bagi kalian yang mungkin secara tidak sengaja membaca tulisan saya ini, semoga tercerahkan dengan tulisan saya. Amin.

Kata Alhamdulilah, adalah sebuah bahasa yang sama artinya dengan "Salam sejahtera bagimu". Lalu, di mana haramnya? Di mana salahnya mengucapkannya? Apakah karena kata ini identik dengan kaum Muslim? Hello....

Kalau memang itu (AGAMA) masalahnya, saya sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Saya mundur deh.

Bahkan kata SubhanAllah diterjemahkan gamblang dengan padanan Haleluya. Haleluya sendiri berarti "Puji TUHAN". Alangkah baiknya kata-kata ini. Dan betapa bodohnya orang yang mempersalahkan siapapun yang mengatakannya. Jika kaum Muslim berkata "Haleluya" atau kaum Nasrani berkata "SubhanAllah", so what? Please, open the window, eh, open your mind! It's hareudang here :D

Terakhir, ada sebuah pertanyaan dari saya, silakan dijawab. WARNING! Ini sarkasme.  Bagi yang tidak tahan kata-kata pedas tapi sudah terlanjur membaca, yah, apa boleh buat :) Tidak ada unsur SARA di sini, ya, warganet...

Jangan jadikan bahasa sebagai alat pemecah. Terkutuklah mereka yang selalu membawa perpecahan dan berusaha  menggiring opini untuk menyesatkan orang lain. Kalau mau sesat, sesat saja sendiri, Bos! Hehehe.

Lebih aneh mana, orang Islam yang protes waktu mendengar orang Kristen yang mengatakan "Assalamualaikum" atau orang Kristen yang mencibir sesama Kristen karena mengatakan kalimat yang sama?

Assalamualaikum
Assalamualaikum
InshaAllah


Alhamdulilah
SubhanAllah


Friday, 13 October 2017

Membuat Undangan Pernikahan Menggunakan Microsoft Office Word

Hai, kali ini saya akan membagikan cara untuk membuat undangan pernikahan. Undangan pernikahan ini saya desain dan pakai sendiri (mengingat keterbatasan biaya saat itu). Undangan pernikahan ini sangat sederhana karena hanya menggunakan aplikasi Microsoft Office Word, sedangkan untuk gambar penghiasnya saya menggunakan bantuan aplikasi di Android seperti PicsArt, WordArt, dan WhatsApp. Bentuk akhirnya seperti buku J

Alat yang dibutuhkan:
ü  Kertas Concorde ukuran Legal (gunakan kertas Concorde tebal), ini akan menjadi cover undangan
ü  Kertas Concorde ukuran A4 (gunakan kertas Concorde yang lebih tipis dan halus), ini digunakan untuk isi
ü  Lem Fox
ü  Plastik bening dengan seal  (ukurannya agar diperhatikan supaya kertas Legal dengan posisi landscape dibagi dua bisa masuk)
ü  Printer (saat mencetak, atur printer agar mencetak dengan High Quality)
Cara mengatur printer: Tekan tombol Ctrl+P bersamaan, klik Properties, pada main tab pilih High Quality,klik OK)

Berikut langkah-langkah membuatnya.

Lembar Cover Terluar dan Bagian Dalam (dicetak di Concorde ukuran Legal bolak-balik)
ü  Microsoft Word diatur dengan posisi kertas landscape.
ü  Untuk halaman depan (cover) saya menggunakan kertas dengan ukuran custom size, dengan Width: 33,02 cm dan Height: 21,59 cm
ü  Bagi halaman kertas menggunakan TextBox, silakan berkreasi sekreatif mungkin.
ü  Masukkan kata-kata dan gambar pada TextBox yang sudah tersedia
Cover  Terluar
Cover Dalam
Lembar Isi Terluar dan Bagian Dalam (dicetak di Concorde ukuran A4 bolak-balik)
ü  Microsoft Word diatur dengan posisi kertas landscape.
ü  Untuk halaman depan (cover) saya menggunakan kertas dengan ukuran custom size, dengan Width: 31 cm dan Height: 21 cm
ü  Bagi halaman kertas menggunakan TextBox, silakan berkreasi sekreatif mungkin.
ü  Masukkan kata-kata pada TextBox yang sudah tersedia
Isi Bagian Dalam
Isi Bagian Luar

Mengedit dan Membuat Gambar dengan Tulisan
ü  Gunakan smartphone anda dan install aplikasi PicsArt dan Focus n filter - Name Art dari Play Store
ü  Berkreasilah menggunakan aplikasi tersebut
ü  Simpan gambar yang sudah dibuat

Transfer Data dari Ponsel ke Laptop Menggunakan WhatsApp Web
ü  Bisa saja mentransfer gambar yang sudah dibuat dengan menggunakan kabel data, namun saya prefer transfer data menggunakan aplikasi WhatsApp Web di laptop
ü  Buka situs WhatsApp Web di browser laptop anda
ü  Buka WhatsApp di Android, ketuk tanda titik tiga di pojok kanan atas
ü  Ketuk WhatsApp Web dan scan QR code yang ada di laptop anda
ü  Kirim file yang diperlukan lalu download dan tempatkan di undangan yang anda buat

Print undangan yang telah dibuat dan lipat undangan menjadi dua, gunakan lem Fox untuk menyatukan kedua lembar kertas. Setelah kering, masukkan ke dalam plastic bening. Selamat mencoba J

Undangan yang sudah dilipat
Mengeringkan cover dan isi yang sudah dilem

Menyisipkan gambar yang telah diedit (gambar diedit menggunakan Name Art)

Cover bagian dalam 
Mencetak undangan


Wednesday, 11 October 2017

Janji Nikah

Janji Nikah Suami

Saya, Herman Saragi menyaksikan di hadapan Tuhan Yang Mahakuasa dan di hadapan jemaat yang menjadi saksi-saksi pada saat ini, bahwa atas kehendak saya sendiri, atas cinta kasih dari Tuhan telah memilih engkau, Sieska Mazmur menjadi istri saya yang sah.

Saya berjanji mengasihi engkau, menghibur engkau, menghormati engkau, dan memelihara engkau pada waktu sehat maupun sakit, pada waktu susah ataupun senang.

Saya berjanji mau memaafkan engkau di dalam segala kekurangan dan kelemahanmu.

Saya berjanji tidak akan meninggalkan engkau dan tidak akan menceraikan engkau sebelum kematian memisahkan kita.

Kiranya Tuhan memampukan saya.


Janji Nikah Istri

Saya Sieska Mazmur menyaksikan di hadapan Tuhan Yang Mahakuasa dan di hadapan jemaat yang menjadi saksi-saksi pada saat ini, bahwa atas kehendak saya sendiri, dan atas cinta kasih dari Tuhan bersedia menerima engkau Herman Saragi menjadi suamiku yang sah.

Saya berjanji akan tunduk kepadamu, mengasihi engkau, menghormati engkau, memelihara engkau pada waktu sehat maupun pada waktu sakit, pada waktu susah, maupun pada waktu senang.

Saya berjanji akan memaafkan engkau dalam segala kekurangan dan kelemahanmu.

Saya berjanji bahwa saya tidak akan meninggalkan engkau dan tidak akan menceraikan engkau sebelum maut memisahkan kita.


Kiranya Tuhan memampukan saya.

Tuesday, 10 October 2017

Jalan yang Telah Dilalui

Dua hari lagi adalah peringatan seperempat tahun pernikahan saya. Ini berarti sudah hampir 3 bulan saya berada di kota yang tidak pernah saya bayangkan saya akan berada di sana. Lembang.

Saya ingin mengingat kembali masa di mana saya seperti diajak berputar-putar untuk kemudian dipertemukan (oleh-Nya), dengan cara yang sama sekali tidak saya duga, dengan pasangan hidup saya.

Saat itu, bulan Agustus tahun 2015 (cerita ini saya dengar setelah saya mendekati pernikahan saya dengan suami saya) – mungkin itu di tanggal 22 atau 29, hari bahagia rekan kerja sekaligus teman dekat saya. Dia mendapuk saya sebagai pengiring pengantinnya saat itu (saya rasa hari itu berjalan tidak baik). Itu adalah hari di mana Tuhan bekerja dengan begitu luar biasa dalam hidup saya. Saya rasa itu permulaannya, namun mungkin Tuhan telah mengerjakannya sejak lama.

Sebagai seorang pengiring pengantin, tentu saya harus sudah berada sehari di rumah calon pengantin sebelum pernikahan berlangsung. Jumat malam, saya tidak bisa tidur, hari itu terasa kurang lengkap karena saya sedang dalam kondisi tidak baik. Saya lupa rincinya, yang saya ingat hari itu tidak seperti yang saya harapkan.

Esoknya, saya terbangun dan didandani selayaknya seorang pengiring. Saya tidak suka dan tidak pernah suka didandani seperti itu. Saya tidak pernah merasa cantik saat didandani, rasanya seperti memakai topeng saja. Hari itu saya jalani sekadarnya, sampai tibalah saat para tamu undangan dari tempat saya bekerja menghadiri pernikahan itu.

Benar, saat itu saya merasa tidak nyaman dengan make up ataupun pakaian yang saya kenakan, dan benar, saat itu perasaan saya sedang kosong dan terasa begitu menyedihkan. Bukan karena sahabat saya menikah, bukan pula karena saya iri dengan pernikahan itu, perasaan itu begitu kosong, dan hebatnya ternyata ada yang memperhatikan keadaan saya saat itu. Dialah bos saya, yang kemudian akan menjadi mertua saya. Dia yang menceritakan bagaimana wajah saya saat itu, betapa saya begitu kentara merasa sendiri di tengah keramaian pesta.

Hari pernikahan itu usai dan berlalu begitu saja, begitu menyedihkan, di mana saya harus berpisah dengan sahabat saya, dia akan memulai hidupnya yang baru di pulau lain, sementara saya harus kembali ke kehidupan saya, kembali bekerja dan menjalani hari seperti biasa.

Agustus 2015, berlalu dengan sewajarnya. Hari-hari saat kehilangan sosok teman dekat sudah berlalu. Hari-hari selanjutnya adalah hari yang sangat amat biasa, namun bos saya ternyata telah lama memperhatikan saya sejak hari pernikahan sahabat saya itu. Bos saya – seperti yang beliau ceritakan – berdoa untuk saya, di sinilah kuasa doa itu mulai bekerja. Atau mungkin – pasti -  telah lama bekerja, tetapi saya belum rasakan seperti apakah hasil pergumulan doa itu.

Kehidupan saya bukanlah kehidupan yang bisa dikatakan baik. Mungkin benar di luar saya tampak baik-baik saja, tetapi di dalam saya begitu hancur dan remuk. Saya sudah terlalu dalam terperangkap dalam dosa yang sangat memalukan, sampai saat ini saya berusaha untuk menghapus semua itu, memohon pengampunan dari Dia yang menciptakan saya. Saya percaya, Dia yang menciptakan saya telah mengampuni saya. Mengapa saya berani mengatakannya? Karena Dia telah melepaskan saya dengan cara yang sangat luar biasa, melepaskan saya untuk selamanya dari dosa, bahkan memberi saya hadiah yang begitu luar biasa, seorang suami yang begitu luar biasa bagi saya. Terima kasih, Bapa.

Saat-saat itu adalah saat di mana saya bergumul dengan dosa, dan sering saya menyerah dengan dosa itu, saya merasa tidak ada, dan tidak akan pernah ada pertolongan dan kekuatan yang akan membuat saya keluar dari dosa itu. Dan benar, saya tidak mampu melawannya, sekali pun saya berdoa, berkomitmen, menyesali diri, tetap saya tidak mampu saat itu. Pergumulan dan penyerahan saya terhadap dosa sudah saya jalani kurang lebih 2 tahun.

Berbulan-bulan sejak pernikahan sahabat saya itu, tahun 2016, mungkin di bulan Maret, atau Februari - bos saya memulai percakapan ringan dengan saya. Saat itu sedang diadakan pelatihan dari pemerintah untuk para karyawan dari beberapa instansi, dan saya adalah salah satu utusan dari instansi tempat saya bekerja. Beliau mendekati saya di waktu rehat pelatihan. Begitu ringan dan singkat percakapan itu.

“Sies, mau nggak Ibu kenalkan dengan keponakan Ibu?” Ibu - begitu saya memanggil bos saya ketika itu - bahkan sampai hari ini. Tanpa ada curiga sama sekali dan tanpa beban – tanpa berpikir panjang, tanpa ada perasaan aneh apa pun, saya menjawab, “Boleh, Bu. Kan, semakin banyak teman semakin bagus.” ringan saja saya menjawabnya, spekulatif. “Iya, benar, untuk nambah-nambah teman aja.” begitu kata beliau. Dalam hati saya begitu hopeless. Teman? Yah, oke, teman. Saya sama sekali tidak berharap lebih. Atau mungkin saya berharap, ya, sepertinya saya bersorak kegirangan waktu itu, kegirangan karena orang yang akan mengenalkan saya adalah orang yang luar biasa bagi saya, mungkin ibu ini akan membawa pencerahan untuk saja, begitu pikiran saya saat itu, antara berharap dan tidak berharap.

Sementara saya mengendalikan diri agar tidak terlalu tampak “berharap”, ibu itu mengeluarkan smartphone-nya. Membuka aplikasi Facebook di ponselnya, dan menunjukkan pada saya sebuah foto. Sebuah foto. Foto sekelompok orang, mungkin ada 10 orang dalam satu frame foto itu. Laki-laki dan perempuan. Lalu ibu itu bertanya pada saya, “Coba lihat. Menurut kamu, siapa yang paling ganteng di sini? Dia keponakan ibu”.

Hahaha. Saya tertawa dalam hati. Siapa yang paling tampan? Oke, pikir saya, saya akan menemukannya, dan saya tidak akan salah tunjuk. Saya pun mulai memperhatikan foto itu, menilai dan membandingkan. Ibu ini berencana untuk mengenalkan saya pada keponakannya, tentunya dia masih “single”. Mata saya terpaku pada sosok pria kekar yang menurut saya paling tampan di sana, tapi, sayangnya, dia dipeluk oleh seorang wanita dengan begitu mesranya. Sedikit kecewa, dan kembali ingat, salah satu pria di foto ini akan dikenalkan pada saya, dia paling tampan (menurut penilaian subjektif bos saya) dan dia single. Saya berpikir cepat, tidak mungkin orang yang akan dikenalkan pada saya dipeluk mesra seorang wanita seperti itu.

Lalu, saya menurunkan sedikit standar saya, dan mulai berpikir lebih masuk akal. Saya melihat ada seorang pria, bertubuh kekar juga, berdiri sendiri, sepertinya dia sendiri saja di sana, menatap kamera dengan senyum, senyum apa itu? Kelihatannya dia yang paling kesepian di sana, karena beberapa orang di foto itu sepertinya berpasang-pasangan. Boleh juga dia, pikir saya. Walaupun bagi saya dia bukan yang paling tampan, tapi dialah yang paling masuk akal akan dikenalkan kepada saya, keponakan sang bos. Tanpa ragu, saya menunjuk orang yang tampak kesepian itu. Hahaha. Lucu kalau saya mengingat kembali masa itu.

Dan benar saja, pilihan saya tidak salah. Hahaha. Benar dia orangnya, boleh juga tampang dan tampilannya. Saya tertawa dalam hati, tertawa sekencang-kencangnya. Dia? Yang benar saja? Wajahnya oke (dia kandidat kedua tertampan setelah pria yang dipeluk wanita tadi), badannya oke, gila kalau dia belum punya pacar! Non sense! Harapan yang tadinya muncul sedikit, surut tiba-tiba. Tidak mungkin orang seperti dia akan suka pada saya yang tidak seberapa ini. Itulah pikiran saya saat itu.

Lalu ibu itu mulai menunjukkan beberapa foto lain, sepertinya itu foto profil keponakan bos saya tunjuk tadi. Foto itu ditunjukkan kepada saya, dan saya menoleh malas-malasan, sejujurnya saat itu saya ingin sekali fokus pada foto yang ditunjukkan kepada saya. Foto-foto itu begitu amat sangat menarik mata saya. Amat sangat. Tapi entah mengapa, saya sengaja membuat blur pandangan saya, dan saya justru fokus pada pakaiannya saja. Dan bahkan, saat saya begitu berusaha sekuat tenaga untuk mem-blur-kan pandangan saya, wajah orang di foto yang ditunjukkan itu terasa begitu menarik perhatian, sepertinya wajahnya agak “mengerikan”, terlalu cool, begitulah kira-kira kesimpulan yang saya tarik dalam keadaan pandangan blur itu. Seharusnya saya tahu siapa nama orang yang akan dikenalkan pada saya saat itu juga. Foto profil itu di-scroll beberapa kali, dan tentunya nama pemilik foto profil itu bisa dengan mudah saya lihat dan saya ingat. Tapi memang saya sengaja berusaha mem-blur-kan pandangan saya saat itu, karena harapan saya sudah pupus. Too good to be true, tidak akan cocok, kalaupun saya suka padanya, dia tidak akan tertarik pada saya. Begitu pikir saya.

Dan hari “dikenalkan” sekilas itu pun berlalu begitu saja. Sempat ada amarah di dalam hati saya, karena saya tahu persis, bos saya tahu kalau saya punya pacar saat itu. Sebegitu tidak lakunya kah saya, sampai harus dikenalkan? Tetapi setelahnya saya sama sekali tidak ambil pusing, mengingat kecil sekali kemungkinan saya untuk bisa berkenalan dengan orang yang saya anggap tidak akan tertarik pada saya. Siapa dia, tidak penting buat saya saat itu . Sudahlah. Saya pun melupakannya.

Hari-hari kembali berjalan seperti biasa lagi. Sekalipun ada saat-saat di mana saya harus menghadap bos saya, dan bos saya kembali menyinggung tentang perkenalan waktu itu. Tetapi tiap kali saya diajak bicara tentang keponakan bos yang akan dikenalkan pada saya itu, dalam hati selalu ada ketidakyakinan dalam diri saya. Saya hanya merasa tidak yakin. Orang ini, saya tidak tahu ada di mana dia, dia terlalu “tinggi”, terlalu “wah” buat saya. Sampai akhirnya saya sampai di tanggal 04 Juni 2016, yang sepertinya itu awal pergerakan yang tidak saya duga. Seseorang menambahkan saya sebagai teman Facebook-nya. Saat itu saya tidak terlalu “notice” siapa dia. Yang saya ingat dia punya beberapa mutual friends yang termasuk di dalamnya bos saya. Jadi saya approve permintaan pertemanan itu.

“Salam kenal ya ito”. Kata-kata itu muncul di wall Facebook saya. Membuat saya berdebar-debar. Siapa dia? Beberapa orang mengomentari post itu. Saya membiarkan post itu sampai keesokan harinya. Saya tidak tahan lagi, dan saya tanyakan apa maksud orang-orang mengomentari postingan yang seharusnya saya (saja) yang mengomentari, bukan orang lain. Dan jawabannya? “Bukan apa-apa”. Dasar, pikir saya. Waktu pun berlalu, hanya shock therapy sesaat, sudahlah. Saya mulai menyadari, dialah orang yang ingin dikenalkan bos saya kepada saya. Saya mulai membuka-buka akun Facebook-nya, sekadar melihat seperti apa orangnya. Kembali saya merasa, ini pasti hanya sesaat. Perkenalan sesaat, dan pasti akan terlupakan.

Empat hari kemudian, entah bagaimana ceritanya, akhirnya komunikasi via telepon, Line dan Whatsapp antara saya dan keponakan bos pun dimulai. Saya sudah mengantisipasi perasaan dalam diri saya, saya menekan perasaan saya sedemikian rupa, di satu sisi saya masih memiliki pacar, di sisi lain saya menyadari saya tidak akan bisa berpaling dan tidak mungkin orang yang berusaha mendekati saya ini akan menyukai saya. Saya membatasi diri dan meyakinkan diri sendiri, bahwa hubungan ini hanya sekadar pertemanan biasa, pelarian dari ketidaknyamanan dari keadaan saya saat itu. Toh, saya hanya berteman dengan dia. Tidak ada komitmen apa-apa, terlebih lagi, saya belum bertemu langsung dengan dia.

Masa-masa curious dengan segala hal tentang keponakan bos ini saya lewati juga, mulai dari melihat sedikit profil yang dia bagikan di media sosialnya, stalk foto-foto Instagram-nya, sampai chatting dan berkomunikasi via telepon. Saya benar-benar membatasi diri, saya takut terlalu berharap. Saya hanya ingin memiliki second opinion. Demikian saya membenarkan kebersamaan kami saat itu. Terlalu datar.

Pembicaraan tentang perkenalan itu sekali-sekali muncul ke permukaan dan tidak membuat saya begitu tertarik, toh saya sudah ngobrol dengan orang yang dimaksud dan sepertinya tidak akan ada kejelasan tentang semua ini. Dia berada di Bandung, dan saya ada di Bangka. Selentingan saya tangkap dari pembicaraan kami di telepon, mungkin dia akan berlibur pada bulan Desember ke Bangka, saya tidak bisa berharap banyak. Dalam kurun waktu nyaris 2 bulan, komunikasi kami sangat datar dan cenderung tidak ada perkembangan, bahkan seperti mandek. Entahlah, itu percakapan paling ”garing”  dan “jaim” yang pernah saya lakukan dengan seorang pria.

Ulang tahun saya  yang ke-26 pada tanggal 23 Juli 2016 saat itu masih saya rayakan dengan pacar – yang pada akhirnya putus tidak lama setelah perayaan ulang tahun saya itu. Bahkan saya mendapat surprise yang tidak saya sangka saat itu. Ulang tahun saya saat itu terasa begitu menyesakkan buat saya. Ada masa di mana saya merasa bersalah, ketika saya berkomunikasi dengan keponakan bos yang dikenalkan pada saya, karena sekalipun ini hanya pacaran, saya sama sekali tidak ingin mendua hati (kalau dipikir-pikir, itu hal yang terlalu idealis saat ini). Namun di sisi lain saya ingin lepas dari hubungan saya saat itu.

Di sisi lain komunikasi saya dengan orang yang dikenalkan pada saya saat itu tetap berlanjut. Hal ini membuat keadaan saya tidak semakin baik. Saya tidak sepenuhnya menyalahkan keadaan saat itu, saya saat itu ingin lepas. Dan dengan munculnya orang baru mungkin akan membuat perbedaan. Kegelisahan hati saya, saya ceritakan pada seorang kakak yang sudah saya anggap seperti kakak kandung saya sendiri. Saya menceritakan perkenalan saya, saya menceritakan keadaan saya, dan di hari ulang tahun saya saat itu, dia hanya meminta saya untuk berdoa.
Berdoa. Sesuatu yang begitu klise terdengar di telinga saya. Ide yang buruk. Saya antara setuju dan menolak ide untuk berdoa itu. Selama ini saya rasa saya sudah cukup berdoa, sudah cukup air mata saya, memohon Tuhan melepaskan saya dari hubungan yang tidak membangun saya, tapi selama saya berdoa, selama itu pula Tuhan seperti mengabaikan saya. Apa perlunya saya berdoa lagi? Saya sudah tidak sanggup lagi. Terserahlah, pikir saya. Yang penting saya sudah memohon pada-Nya, jika Dia tidak mau menolong, itu terserah Dia. Saya sudah berumur 26 tahun saat itu. Sahabat saya yang saat itu saya menjadi pendamping pernikahannya, sudah akan menikmati 1 tahun pernikahan mereka. Ada rasa tidak adil dalam hati saya memikirkan semua itu.

Nyaris satu bulan setelah ulang tahun saya yang ke-26. Sampai suatu ketika emosi saya benar-benar memuncak, saat itu peringatan 17 Agustus di tahun 2016 di instansi tempat saya bekerja, bos saya mengatakan akan ke rumah saya untuk membicarakan perkenalan itu dengan keluarga saya. Saya sudah mulai melupakan orang yang akan dikenalkan ini, saya malah kembali diingatkan lagi. Saya marah saat itu, walaupun tidak saya tunjukkan langsung di hadapan bos saya. Saya menceritakan kekesalan hati saya pada kakak saya, dan saya tetap tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan hati saya. Tidak ada jalan keluar untuk masalah saya. Jika pun bos saya datang dan membicarakan akan mengenalkan, lalu apa? Apa bisa semua itu menyelesaikan masalah saya dalam hubungan yang sudah saya jalin sebelumnya?

Bos saya tidak main-main dengan perkataannya. Dia memang datang dan membicarakan semua dengan orang tua saya. Orang tua saya hanya merespon sekadarnya, menghormati niatan baik bos saya, namun, sama seperti saya, tidak terlalu berharap. Toh orang yang dibicarakan belum muncul di depan mata. Jadi semuanya hanya sekedar pembicaraan belaka.

Saya tidak bisa bilang bahwa komunikasi saya berjalan lancar dengan orang yang akan dikenalkan pada saya ini. Sebelumnya saya sudah mengatakan bahwa ini adalah percakapan “tergaring” dan “terjaim” yang pernah saya lakukan dengan seorang pria, dan parahnya, yang belum pernah saya temui langsung.

Hubungan saya dengan mantan pun semakin memburuk, membuat saya muak dengan segala keadaan saya saat itu. Puncaknya adalah tanggal 10 September 2016, saya benar-benar ingin menyudahinya. Dan benar, hubungan itu pun berakhir. Saya tidak ingin mengingatnya lagi. Di hari yang sama saya menyudahi hubungan saya, hari itu pula bos saya datang untuk yang kedua kalinya menemui orang tua saya dan menegaskan kembali tentang perkenalan itu. Dengan pikiran yang kalut, saya hanya bisa tersenyum mencoba menyembunyikan kesedihan hati saya.


Bukan hal yang mudah untuk mengakhiri sebuah hubungan. Saya harus berjibaku dengan perasaan dan pikiran saya, bertahan dengan segala keberadaan saya. Saya mencoba menghilangkan kepenatan pikiran saya dengan menyusuri pantai. Sudah cukup. Saya ingin memulai sesuatu yang baru. Itu tekad saya. Hari yang saya lalui tidak bisa dikatakan mudah, banyak hal yang harus saya hadapi pasca keputusan saya itu.

Hari Jumat, 16 September 2016, hari yang sama sekali tidak mengenakkan buat saya. Sedari pagi rasanya tidak ada yang membuat saya bersemangat. Sepulang sekolah kembali bos saya secara mengejutkan mengingatkan bahwa hari itu dia akan datang lagi. Saya sudah tidak ambil pusing, beliau hanya mengatakan ingin mengambil anjing. Anjing? OK. It’s not a big deal. Satu-satunya yang membuat saya bersemangat adalah kenyataan bahwa di Jumat malam saya akan bertemu dengan teman-teman saya untuk latihan di gereja. Namun tidak disangka, saya ingat betul saat itu, hari di mana biasanya saya keluar dan pergi untuk latihan Sekolah Minggu di hari Jumat, tiba-tiba saya merasa tidak enak badan, dan saya memutuskan untuk tidak pergi latihan saat itu.

Dan tebak apa? Orang yang pagi tadi sempat saya kasihani karena mengaku hanya sarapan roti, kini ada di hadapan saya! Dialah orang yang akan dikenalkan pada saya! Dia ada di hadapan saya! Orang yang nun jauh di Bandung kini benar-benar ada di depan mata saya, tersenyum dan mengulurkan tangan untuk menjabat tangan saya! No! Jumat, 16 September 2016 :) Awal yang tidak pernah saya duga. Pekerjaan Tuhan yang luar biasa dalam hidup saya, entahkah itu jawaban atas doa saya atau semata belas kasihan dan perkenanan-Nya melepaskan saya. Saya rasa opsi yang terakhir lebih tepat untuk menggambarkan kemurahan-Nya dalam hidup saya.


Saturday, 2 January 2016

Cara Paling Ampuh Mengatasi Wifi Direct yang Tidak Terhubung ke Android dengan Menggunakan Koneksi Bluetooth

Bener-bener kesal malam pergantian tahun 2015 ke 2016 dilewatkan tanpa adanya koneksi internet. Saya coba jaringan Thre* gak nyambung-nyambung karena signal di daerah saya gak dapet (maklum tinggal di kampung). Kebetulan adik saya memakai karu X* dan baru saja beli paket. Terpikir oleh saya untuk menggunakan wifi direct alias tathering dari Android adik saya. Sudah coba masukkan password wifi-nya, eh... gak bisa. Coba buka Google untuk cari solusi, eh... gak ketemu. 2 hari saya harus gigit jari tanpa internet. Jam 3 pagi saya terbangun dan mulai kotak-katik Android saya. Mulai dari mengisikan Proxy secara manual dan IP setting static gak mempan juga. Akhirnya saya cari akal dan kotak-katik pengaturan bluetooth

Ternyata berbagi paket internet gak hanya pakai wifi saja tapi bisa juga pakai buetooth lho... Bagaimana caranya? Masih ga percaya kayak manusia ini?


  1. Nyalakan bluetooth di Android yang ingin dijadikan sebagai hotspot dan Android penerima paket
  2. Tautkan kedua perangkat bluetooth 
    AnAngel - Android Hotspot


    SieskaMazmur - Android Penerima
  3. Pada setting-an Android hotspot pusat, klik gambar roda berberigi dan jadikan pengaturannya menjadi seperti di gambar ini
    Tampilan di AnAngel - Android Hotspot
  4. Sehingga di Android penerima akan tampil seperti ini

    Tampilan di SieskaMazmur - Android Penerima
Demikian, semoga bermanfaat... :)

Tuesday, 29 December 2015

Cara Membuka Beberapa Windows dalam Satu Layar

Hai... Kali ini saya akan membagikan cara bagaimana untuk membuka beberapa windows dalam satu layar desktop. Silakan cek videonya ya ^^


Saturday, 19 September 2015

Cara Paling Ampuh Menghapus Lock Otomatis pada Windows 8

Halo, hari ini saya akan memposting cara menonaktifkan lock otomatis pada Windows 8 yang sungguh menyebalkan. Pada awalnya saya mengaktifkannya untuk membuat laptop saya aman, tapi lama-kelamaan saya merasa it's wasting time kalau harus bolak-balik masukin password...
    1. Klik tombol Windows  + Q
    2. Ketik gpedit.msc pada kolom search, klik enter 
    3. Klik seperti yang di gambar berikut 

    4. Lalu disebelahnya klik dua kali Do not display the lock screen > Ubah menjadi Enabled > Aplly > OK


    5. Restart laptop anda
    6. Jika pada saat anda biarkan beberapa saat dan laptop lock otomatis juga dan tetap meminta untuk memasukkan password, langkah selanjutnya adalah berikut ...
    7. Ubah tampilan agar tampak seperti berikut
    8. Dan selesai sudah... Ada tidak perlu lagi memasukkan password saat membuka laptop anda...

Friday, 24 July 2015

Undangan Halak Batak (The Invitation of Batak People)

Saya mau membagikan sedikit contoh undangan orang Batak, khususnya undangan untuk pernikahan yaitu Undangan Partumpolon dan Undangan Mangarang-Rangi.

Saya pribadi hanya tahu kalau Undangan Partumpolon itu artinya undangan untuk pertunangan, di mana terjadi pengikatan janji antara calon mempelai pria dan wanita. Di partumpolon itulah nanti jika ada yang keberatan akan perjanjian itu, boleh menggugat pernikahan/pertunangan itu. Kalau yang di Mangarang-rangi ga tau juga tuh untuk apa hahaha...

Ok, bagi yang mau download silakan ya...
Download Undangan Partumpolon
Download Undangan Mangarang-Rangi

Thursday, 23 July 2015

Today Is My Birthday!!

Thankyou Lord today is my 25th birthday...

Mau mengabadikan setiap ucapan dari sahabat, kekasih hati, dan teman-teman terbaik yang saya punya...

Hari ini juga hari Anak Sedunia alias Children's Day 23rd July 2015

Ucapan yang pertama dari sahabat terbaik...
Thank you so much and amen.... :)

Amen... Thank you...



From comrades in battle, grup yang tak berbobot :D
Thankyou CommanderPebisnis OnClinicDomba HitamPemerhati BangsaArtis Korea, dan Alay Prabowo